PANGGILAN MARIA PANGGILAN KERASULAN AWAM

Dipublikasikan tanggal 01 October 2014

PANGGILAN MARIA – PANGGILAN KERASULAN AWAM

 

Suri teladan yang sempurna bagi hidup rohani dan hidup merasul itu ialah Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul. Selama di dunia ia menjalani hidup kebanyakan orang, penuh kesibukan keluarga, dan jerih payah, tetapi selalu mesra bersatu dengan Putera-Nya dan dengan cara yang sangat istimewa ia bekerja sama dengan karya Sang Penyelamat. Tetapi sekarang ia telah diangkat ke sorga, dan “dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan”. Hendaknya semua saja penuh khidmat berbakti kepadanya, dan menyerahkan hidup serta kerasulan mereka kepada perhatiannya yang penuh rasa keibuan. (Apostolicam Actuositatem I,4)

 

Apostolicam Actuositatem adalah salah satu dokumen Konsili Vatikan II yakni Dekrit tentang Kerasulan Awam. Dekrit ini dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 18 November 1965, hampir 50 tahun yang lalu. Dalam salah satu butir permenungannya, umat Katolik diajak untuk meneladani Bunda Maria dalam hidup merasul dan dengan penuh khidmat berdevosi kepadanya serta menyerahkan hidup dan kerasulan mereka kepadanya.

 

Hari ini tanggal 1 Oktober 2014, kita memasuki bulan Rosario, bulan devosi kepada Bunda Maria. Hari ini tepat kiranya kita manfaatkan untuk merenungkan hidup merasul kita semua, terlebih-lebih karena Bunda Maria yang kita hormati adalah suri teladan yang sempurna bagi hidup rohani dan hidup merasul. Dalam Litani Santa Perawan Maria, Bunda Maria diberi gelar Ratu Para Rasul.

 

Dalam Injil Lukas Bab 1 dikisahkan dua kabar Malaikat Gabriel: pemberitahuan tentang kelahiran Yohanes Pembaptis kepada ayahnya Zakharia (Luk 1:5-25) dan pemberitahuan tentang kelahiran Yesus kepada ibunya Maria (Luk 1:26-38). Kisah tentang panggilan Zakharia dan panggilan Maria memiliki beberapa kemiripan. Yohanes Pembaptis akan lahir dari seorang perempuan mandul dan Yesus akan lahir dari seorang perawan. Ucapan Malaikat Gabriel, “Jangan takut, hai Zakharia …” (Luk 1:13) senada dengan “Jangan takut, hai Maria …” (Luk 1: 30). Baik Zakharia maupun Maria sama-sama menyatakan keheranan (Luk 1:18, 34).

 

 Namun di samping memiliki kemiripan, dua kisah panggilan itu juga mencatat beberapa perbedaan yang mendasar. Zakharia dipanggil di Bait Allah di Yerusalem, sedangkan Maria dipanggil di rumahnya di Nasaret. Zakharia seorang pria dan Maria seorang wanita. Panggilan Zakharia, yang bersifat liturgis (pembakaran dupa, sembahyang) berbeda dengan panggilan Maria yang bersifat duniawi (profan). Apa yang mendasari perbedaan-perbedaan ini? Kita dapat menyimpulkan bahwa Zakharia adalah seorang imam dan Maria adalah seorang awam. Zakharia adalah keturunan Harun, sedangkan Maria bukan. Panggilan Zakharia terjadi di hari Sabat di mana liturgi umat Yahudi mencapai puncaknya, sementara panggilan Maria terjadi di hari biasa ketika dia sedang melaksanakan tugas kesibukan keluarga.

 

Dengan demikian panggilan Maria adalah panggilan umat awam. Dalam Perjanjian Lama panggilan awam sudah umum. Musa, para nabi, para hakim, dan juga para raja termasuk awam. Sebaliknya Harun dan keturunan Lewi adalah petugas-petugas rohani. Dalam PB terutama di bagian pertama Injil Lukas diceritakan juga panggilan klerus (imam) dan panggilan awam. Kesadaran akan peranan kaum awam sudah dicatat dalam Kitab Suci (Kis 11:19-21; 18:26; Rom 16:1-16; Fip 4:3).

 

Gereja menyadari pentingnya kerasulan awam. Hal ini terbukti dengan lahirnya Dekrit tentang Kerasulan Awam. Zaman modern menuntut semangat kerasulan awam yang lebih intensif dan lebih luas. Makin bertambahnya jumlah umat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, hubungan antar manusia yang lebih erat, bukan saja memperluas kerasulan awam, tetapi juga menuntut perhatian serta usaha yang lebih banyak. Selain itu di banyak daerah, yang jumlah imamnya sangat sedikit, tanpa kerasulan awam Gereja nyaris tidak dapat hadir dan aktif.

 

Kesadaran hidup sebagai umat adalah panggilan keselamatan. Umat mengambil bagian dalam misi Kristus dan Gereja sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing. Umat awam diberi kesempatan berpartisipasi dalam 3 tugas: mengajar, menguduskan, dan membimbing. Hal ini terwujud dalam pelbagai keterlibatan umat sebagai katekis, anggota Dewan paroki, petugas liturgi, karya sosial Gereja dll.

Maria menjadi citra Gereja bagi umat awam karena sudah menghayati tiga fungsi Yesus sebagai imam, nabi, dan raja. Seluruh Gereja (klerus dan awam) mengambil bagian dalam peran Yesus sebagai imam, nabi, dan raja berdasarkan pembaptisan dan pengurapan Roh Kudus.

 

Alangkah baiknya apabila di bulan Rosario ini kita meluangkan waktu untuk merenungkan panggilan kita untuk merasul di tengah masyarakat sambil meneladani Bunda Maria dan berdoa kepadanya. Beberapa pandangan keliru seperti “Gereja itu urusan pastor” atau “pastor adalah segala-galanya” harus kita perbaiki. Dalam hal kerasulan tidak ada dinding pemisah antara kaum klerus dan umat awam. Panggilan umat awam, seperti panggilan Maria, disebut “keibuan Mesias”. Semua umat Allah wajib melahirkan Kristus. Oleh karenanya St. Paulus dalam Rom 8:22 mengatakan bahwa kita semua sama-sama mengeluh dan sama-sama merasakan sakit bersalin. Gereja adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia  (Ef 1:23). Selamat berdevosi dan selamat melayani sebagai rasul.