Hai Para Wanita, Bangunlah!

Dipublikasikan tanggal 16 April 2014

Hai Para Wanita, Bangunlah!

Peran Wanita dalam Gereja

Peran wanita dalam Gereja selalu menimbulkan kontroversi yang tidak pernah habis-habisnya. Jumlah perempuan yang menjadi anggota misdinar, prodiakon, bahkan dewan paroki, selalu minoritas. Ironisnya para wanitalah yang aktif hadir dalam pertemuan-pertemuan lingkungan, entah itu doa Rosario atau pendalaman KS.  Peserta kursus-kursus KS atau seminar-seminar di gereja-gereja kebanyakan kaum wanita. Lalu bagaimana sesungguhnya peran kaum wanita dalam pelayanan dalam Gereja?

 

Kaum Wanita Lebih Rajin Berdoa dan Membaca KS

Wanita dalam Kitab Suci

KS baik PL maupun PB tidak pernah menomorduakan wanita. Kisah penciptaan mencatat bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, laki-laki dan perempuan (Kej 1:28). Tentu saja manusia tidak diciptakan menurut gambar Allah kalau di dunia ini hanya diciptakan laki-laki saja! Ketika Tuhan hendak menciptakan perempuan, Dia menciptakan perempuan sebagai penolong yang sepadan bagi laki-laki (Kej 2:20).

Wanita Penolong Sepadan bagi Pria

Miryam adalah perempuan yang berjasa menyelamatkan Musa (Kel 2:4). Kemudian dikisahkan bagaimana Miryam mendampingi Musa dalam pengembaraan di padang gurun. Miryam disebut nabiah dan nyanyian Miryam, “Menyanyilah bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut” (Kel 15:21) merupakan salah satu himne yang paling awal dalam liturgi Israel.

 

Nyanyian Pujian Miryam, Salah Satu Himne Tertua

PL juga mencatat Debora sebagai hakim wanita. Debora juga disebut sebagai nabiah (Hak 4:4). Dengan gagah berani dia menaklukkan kepala pasukan musuh yang bernama Sisera. PL juga mencatat dalam sejarah peran seorang ratu bernama Ester. Peranan Ester sangat penting dalam upayanya menyelamatkan bangsa Israel dari rencana jahat Haman. Dari kisah Ester bangsa Yahudi dapat melacak asal usul hari raya Purim, yang merupakan hari nasionalisme Yahudi. Tidak ketinggalan juga tokoh Yudit, seorang janda yang berhasil memikat jenderal musuh, Holofernes dan memenggal kepalanya! Setelah kematian Holofernes bangsa Asyur mengalami kekacauan dan Israel berhasil diselamatkan oleh tangan seorang perempuan.

 

Ester, Ratu yang Menyelamatkan Bangsanya

 

Debora, Hakim-Nabiah-Pahlawan

 

Yudit Memenggal Kepala Holofernes

Dalam PB kita menyaksikan peran istimewa Bunda Maria sebagai bunda Kristus. Luk 8:1-3 mencatat peran para wanita seperti Maria Magdalena, Yohana, dan Susana. Mereka melayani rombongan Yesus dan murid-murid-Nya dengan harta milik mereka. Yesus pun sangat mengasihi kakak beradik Marta dan Maria. Kisah Para Rasul tidak ketinggalan menceritakan peran kaum wanita misalnya Maria, ibunda Yohanes atau Markus, yang selalu menyediakan rumahnya untuk bersekutu dan berdoa (Kis 12:12). Di kota Filipi Paulus berkenalan dengan Lidia, seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Allah (Kis 16:14). Peran perempuan-perempuan terkemuka dalam jemaat (Kis 17:4; 12) tidak bisa diabaikan. Di tengah penolakan yang dihadapi oleh Paulus dari orang-orang Atena, Damaris menggabungkan diri dengan Paulus (Kis 17:34).

 

Maria, Bunda Kristus Bunda Gereja

 

Marta dan Maria Dikasihi Yesus

Dalam surat-suratnya Paulus kerap menyapa kaum wanita. Rom 16 mencatat nama Febe, yang adalah pelayan jemaat di Kengkrea. Tidak ketinggalan nama Priskila isteri dari Akwila, yang sama-sama bekerja sebagai tukang tenda. Maria dipuji karena telah bekerja keras. Trifena dan Trifosa dihargai karena membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Dalam Fil 4:2 Paulus menyebut nama-nama Euodia dan Sintikhe, yang telah berjuang bersama dengan Paulus dalam pewartaan Injil.

Peran Wanita dalam Rencana Penyelamatan Allah

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah berfirman, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15)  Ayat ini sering disebut sebagai Injil Pertama, kabar sukacita pertama bahwa Allah akan menyelamatkan manusia dari dosa. Seorang perempuan dan keturunannya berperan serta dalam rencana penyelamatan ini. Yer 31:22b menulis sesuatu yang sangat menarik tentang peran wanita dalam sejarah keselamatan, “Sebab Tuhan menciptakan sesuatu yang baru di negeri: perempuan merangkul laki-laki”.

 

Permusuhan antara Perempuan dan Ular

Permusuhan antara perempuan dan ular menjadi perseteruan sepanjang masa, karena Why 12 mencatat seorang wanita yang memakai matahari sebagai pakaiannya, sedang berdiri di atas bulan. Di kepalanya terdapat sebuah mahkota yang terdiri dari dua belas bintang. Wanita itu sedang hamil, dan karena sudah waktunya untuk melahirkan, ia berteriak kesakitan. Dia berhadapan dengan seekor naga merah yang mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Ketika wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki, anak itu dirampas dari wanita itu, lalu dibawa kepada Allah.

 

Perempuan Berselubungkan Matahari

Peran Wanita dalam Kisah Kebangkitan

Dari kisah-kisah KS di atas dapat disimpulkan bahwa KS tidak pernah menomorduakan wanita. Meskipun murid-murid Yesus semuanya laki-laki, pelayanan mereka ditopang oleh pelayanan para wanita. Satu hal yang patut direnungkan adalah peranan kaum wanita dalam kisah kebangkitan Yesus.

Perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat, tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah mereka sediakan. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.” (Luk 23:55-24:3)

 

Kaum Wanita, Saksi-saksi Pertama dari Kebangkitan Yesus

Di dalam Injil para wanita adalah orang-orang pertama yang menemukan bahwa makam Yesus sudah kosong, padahal mereka menyaksikan sendiri bagaimana mayat Yesus dikuburkan dua hari sebelumnya. Dua injil (Mat 28:9-10; Yoh 20:11-18) mencatat bahwa para wanita adalah juga orang-orang pertama yang mengalami penampakan Yesus yang bangkit. Tidak dapat disangkal lagi bahwa wanita memainkan peranan yang cukup penting dalam kisah kebangkitan Yesus.

Dalam masyarakat Yahudi kuno, wanita dianggap sebagai warga kelas dua. Mereka tidak dapat bersaksi di muka pengadilan. Namun, para penginjil justru ingin menekankan bahwa mereka adalah saksi-saksi pertama kebangkitan Kristus. Para penginjil ingin menempatkan wanita di tempat yang seharusnya diberikan kepada mereka dalam kisah penciptaan. Selama beberapa waktu mungkin saja peran mereka diabaikan, namun hal ini tidak sesuai dengan tujuan Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya.

Hai Perempuan-perempuan, Bangunlah!

Yes 32:9 menuliskan, “Hai perempuan-perempuan yang hidup aman, bangunlah, dengarkanlah suaraku, hai anak-anak perempuan yang hidup tenteram, perhatikan perkataanku!” Seruan Yesaya itu kembali bergema di tengah wanita-wanita Katolik Indonesia yang pada tanggal 21 April 2014 akan merayakan hari Kartini. Allah tidak pernah membeda-bedakan kaum wanita dari kaum pria.

Meskipun masih ada pelayanan yang masih dikhususkan untuk pria (misalnya imamat), para wanita seharusnya memakai kesempatan untuk melayani semaksimal mungkin. Dalam pelayanan wanita juga harus aktif, aktif dalam memanfaatkan pelayanan yang tersedia, bahkan menciptakan pelayanan baru. Jika pelayanan bersandar kepada kekuatan Tuhan dan menunjukkan kesetiaan di dalam pelayanan, orang dapat menilai bahwa inilah wanita-wanita yang dapat melayani dengan baik dan dan konsisten.

 

Wanita Katolik Republik Indonesia

Dalam Filipi 3:17 Rasul Paulus berkata, "Saudara-saudara ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu." Seorang wanita Kristiani perlu memberikan suri tauladan yang baik, sehingga orang lain akan melihat kesaksian hidupnya, kesetiaannya, dan kesanggupannya. Akhirnya mereka mau tidak mau harus mengakui sumbangsih yang telah diberikan oleh para wanita dalam pelayanan.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia Corriere della Sera, Paus Fransiskus menekankan bahwa peran wanita dalam Gereja dapat lebih ditingkatkan, misalnya dengan kehadiran para ahli wanita dalam memberikan pertimbangan kepada seorang kardinal senior dalam mengambil keputusan. Beliau menyatakan bahwa para wanita harus lebih terlibat dalam pengambilan keputusan dalam Gereja. Seruan Bapak Suci ini mengulang kembali panggilan Yesaya, “Hai perempuan-perempuan, bangunlah!”

 

Paus Fransiskus Membasuh Kaki Seorang Wanita

Sumber Gambar: Google