Hari Orang Sakit Sedunia XXII

Dipublikasikan tanggal 10 February 2014

Hari Orang Sakit Sedunia XXII

Tanggal 11 Februari 2014 adalah hari ke-12 dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Setelah berpesta pora dengan makanan-makanan enak dan berlemak selama 11 hari, pada hari ke-12 orang-orang Tionghoa mulai mengosongkan perut dengan menyantap menu-menu sederhana, misalnya sayur-mayur dan buah-buahan (vegetarian). Karena tiga hari lagi mereka akan menyelenggarakan Festival Lentera (capgomeh), mereka mulai mempersiapkan diri untuk acara penutup perayaan Tahun Baru Imlek tersebut. 

Di daerah Shijiazhuang ibukota Provinsi Hebei, ada tradisi membuat api unggun dengan ranting-ranting pohon siprus. Kemudian mereka mengelilingi api unggun untuk berdiang. Ada keyakinan bahwa dengan melakukan hal ini, mereka akan dibebaskan dari gangguan roh-roh jahat dan penyakit. Ada juga yang membuat sebuah anak kunci dari kayu siprus, lalu menggantungkannya sebagai kalung di leher bayi. Mereka percaya bahwa kalung itu akan mengusir semua penyakit. Pasangan suami istri yang belum mempunyai anak dapat berdoa di depan api unggun, supaya mereka segera dikaruniai dengan keturunan.

Dua hal dalam tradisi Tionghoa yakni menyantap menu sehat dan mempersiapkan lentera akan kita renungkan bersama sehubungan dengan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) XXII, yang jatuh pada hari yang sama. Hari ini dikhususkan untuk berdoa dan berbagi serta mempersembahkan penderitaan. Konon Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menetapkan HOSS satu tahun setelah beliau divonis menderita penyakit Parkinson.

  

Menu Sehat Vegetarian Mengisi Perayaan Tahun Baru Imlek

 

“Kamu adalah Terang Dunia” (Mat 5:14)

Mengapa tanggal 11 Februari yang dipilih? HOSS ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 13 Mei 1992, dan mulai dirayakan pada tanggal 11 Februari 1993. Tanggal 11 Februari juga bertepatan dengan Pesta Bunda Maria dari Lourdes. Mengingat bahwa banyak peziarah ke Lourdes yang disembuhkan melalui doa-doa perantaraan Bunda Maria, pemilihan tanggal 11 Februari sebagai HOSS juga memiliki makna mengikutsertakan Bunda Maria dalam permohonan akan kesembuhan.

 

Pesta Bunda Maria dari Lourdes di Bangalore India

Tema dari HOSS XII adalah: “Iman dan Kasih – kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (I Yoh 3:16)” Dalam pesannya untuk HOSS XXII Bapa Suci Paus Fransiskus menyatakan bahwa dalam diri orang-orang sakit hadirlah Kristus yang menderita. Dia telah menunjukkan makna dari penderitaan. Penderitaan Kristus memberikan harapan dan keberanian: harapan, karena kegelapan penderitaan menghasilkan terang kebangkitan; dan keberanian, yang memampukan manusia untuk menghadapi setiap penderitaan bersama-sama dengan Dia.

Misteri Inkarnasi tidak menghapuskan penyakit dan penderitaan dari kehidupan manusia, tetapi karena Kristus sendiri telah memikulnya, Dia mengubahnya dan memberinya makna baru. Mengubah dalam arti bahwa dalam persatuan dengan Kristus, penyakit dan penderitaan tidak lagi bermakna negatif, melainkan positif. Yesus adalah jalan dan kita dapat mengikuti-Nya. Sebuah makna baru, karena penyakit dan penderitaan bukanlah kata terakhir, tetapi menuju kepada hidup baru yang berkelimpahan.

Allah Bapa telah memberikan Putera-Nya kepada kita karena kasih. Allah Putera telah memberikan diri-Nya kepada kita karena kasih yang sama. Sebagaimana Allah telah mengasihi kita, kita pun wajib mengasihi sesama kita, terutama mereka yang kurang beruntung, yang menderita, dan yang tersingkirkan. Berkat Sakramen Pembaptisan dan Krisma, kita dipanggil untuk meneladani Kristus, yang adalah orang Samaria yang murah hati bagi semua orang yang menderita. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (I Yoh 3:16)

Ketika kita menyapa orang-orang yang membutuhkan perhatian dengan kasih, kita membawa pengharapan dan senyum Allah kepada dunia. Ketika pelayanan menjadi ciri khas perbuatan-perbuatan kita, hal ini berarti membuka jalan bagi Hati Kristus dan kita tinggal di dalam kehangatan hati-Nya. Dengan demikian kita berperan serta dalam mewujudnyatakan Kerajaan Allah.

Hendaknya kita juga meneladani Bunda Maria, yang selalu mendengarkan suara Allah dan memperhatikan kesulitan anak-anaknya. Dia segera bergegas ke rumah Elisabet untuk membantunya. Dia mohon kepada Puteranya pada pesta perkawinan di Kana, ketika dia melihat bahwa di sana kekurangan anggur. Kata-kata Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus jiwanya direnungkannya dalam hatinya. Dia tegar berdiri di kaki salib Puteranya. Dengan demikian Bunda Maria menjadi bunda bagi semua orang yang sakit dan yang menderita. Bunda Maria adalah Bunda Kristus yang tersalib dan yang bangkit. Dia berdiri di samping salib-salib kita dan mendampingi kita dalam perjalanan menuju kepenuhan hidup.

  

Maria Bunda Semua Orang yang Menderita

Di kaki salib, seorang murid berdiri bersama Bunda Maria. Dialah Yohanes. Dia menegaskan kepada kita bahwa Allah adalah kasih (I Yoh 4:8, 16). Dia mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat mengasihi Allah bila kita tidak mengasihi sesama kita.  Bersama Bunda Maria di kaki salib Yesus, Yohanes belajar mengasihi seperti kasih Yesus. Salib adalah kasih Allah yang pasti untuk kita. Salib membiarkan diri kita dikuasai oleh kasih Yesus. Oleh karenanya kita mampu memandang sesama dengan belas kasih dan kelemahlembutan, terutama mereka yang sakit, yang menderita, dan yang membutuhkan pertolongan.

 

Paus Benediktus XVI dalam Perayaan Hari Orang Sakit Sedunia 2010

Tiga hal terus-menerus didengungkan pada HOSS setiap tahunnya. Pertama, mengingatkan umat beriman untuk berdoa secara khusus dan tulus untuk mereka yang sakit. Kedua, mengundang semua orang Kristiani untuk merefleksikan dan menanggapi penderitaan manusia. Ketiga, menghormati dan mendoakan semua orang yang bekerja di bidang kesehatan. Dikaitkan dengan hari ke-12 perayaan Tahun Baru Imlek, kita diajak untuk selalu menjaga kesehatan sebagai anugerah dari Allah dalam tubuh kita, yang adalah Bait-Nya, dengan mengurangi makanan-makanan yang kurang sehat. Kita juga diutus untuk menjadi terang dunia, yang mewartakan kasih Allah kepada sesama, terutama mereka yang sakit dan yang menderita.