Selamat Datang Dewan Paroki Pleno 2013-2016

Dipublikasikan tanggal 15 August 2013

Selamat Datang Dewan Paroki Pleno Paroki St. Lukas 2013-2016!

Hingar-bingar pemilihan anggota Dewan Paroki Pleno Paroki St. Lukas sudah berlalu. Mereka yang terpilih akan dilantik oleh Bapak Uskup Agung Jakarta pada hari Minggu tanggal 18 Agustus 2013, bertepatan dengan perayaan ulang tahun Paroki yang ke-24. Siapa pun yang terpilih, tentu saja patut kita syukuri dan kita yakini sebagai orang-orang yang dipanggil dan diutus oleh Allah.  Tidak pernah ada dream team, sehingga umat tidak perlu kecewa dengan keputusan yang sudah diambil bersama. Pemilihan anggota Dewan Paroki Pleno berbeda dengan pemilihan umum anggota DPR/DPRD. Kepemimpinan dalam Gereja bersifat kolegialitas, jadi siapa pun yang terpilih seharusnya tugas berat Gereja menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat. 

Hari ini kita diajak untuk menengok sejarah. Yohanes mengirim suratnya yang ketiga (3 Yoh) kepada seseorang yang bernama Gayus. Dalam surat itu dia juga menyebut nama dua orang lainnya: Diotrefes dan Demetrius. Nah, sikap tiga orang ini akan kita renungkan bersama. Tiga orang ini mewakili karakter umat sepanjang zaman, sehingga surat ketiga Yohanes ini menjadi relevan dan segar sepanjang masa.

Gayus

Yohanes mengirim surat ketiganya kepada Gayus. Nampaknya Yohanes sangat mengenal Gayus, dia menyapanya sebagai saudara yang tercinta. Gayus tokoh yang patut diteladani, setidak-tidaknya ada tiga hal yang ditekankan oleh Yohanes:

  1. Gayus berjiwa baik (3 Yoh 1:2)
  2. Gayus setia terhadap Allah dan selalu hidup menurut ajaran Allah (3 Yoh 1:3)
  3. Gayus sangat murah hati dalam pelayanan (3 Yoh 1:5-6)

Kemurahan hati Gayus nampak sekali dalam bantuan moral maupun material yang diberikannya kepada pelayan-pelayan Allah dalam usaha mereka untuk menyebarkan ajaran Allah.  Hal ini menurut Yohanes “menyenangkan hati Allah”. Para pelayan Allah ini layak dibantu karena mereka tidak menerima bantuan apa pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Orang-orang Kristen harus menolong teman-teman sesama Kristen yang mendapat perutusan untuk mewartakan ajaran Allah.


Diotrefes

Diotrefes dikritisi oleh Yohanes karena ingin menjadi “pemimpin” dalam jemaat (3 Yoh 1:9) dan tidak mau menuruti Yohanes. Karakter Diotrefes yang paling disorot oleh Yohanes adalah penolakan terhadap pelayan-pelayan Allah yang sedang diutus untuk mewartakan Injil. Bahkan Diotrefes melarang umat yang mau menerima pelayan-pelayan itu dan bahkan mengusir umat yang berbuat demikian dari komunitas. Nasihat Yohanes adalah supaya kita jangan meniru sikap Diotrefes, yang dinilai sebagai sesuatu yang buruk!

Demetrius

Demetrius dipuji oleh semua orang bahkan Allah pun memujinya (3 Yoh 1:12). Mungkin Demetrius adalah pembawa surat dari Yohanes kepada Gayus sehingga Yohanes meyakinkan Gayus bahwa apa yang disampaikannya lewat Demetrius dapat dipercaya.

Surat ketiga Yohanes menceritakan tentang bagaimana sikap kita selayaknya terhadap pelayan-pelayan Allah yang baru menginjakkan kaki di tempat kita. Sangat kebetulan Paroki St. Lukas baru saja memiliki gembala baru di awal tahun ini. Demikian pula bulan ini kita akan memiliki Dewan Paroki Pleno baru. Bagaimana selayaknya sikap kita dalam menyambut mereka sudah jelas dalam surat ketiga Yohanes. Kita mau menjadi Gayus atau menjadi Diotrefes?

Menjadi Gayus berarti menyambut mereka dengan sukacita, membantu mereka dengan tulus dan mendukung mereka. Hal ini menyenangkan Allah dan merupakan wujud nyata partisipasi kita dalam usaha untuk menyebarkan ajaran Kristus (3 Yoh 1:6-7).

Atau kita ingin menjadi Diotrefes? Merasa diri paling hebat dan tidak pernah membuka pintu terhadap kehadiran orang lain dalam Gereja. Bahkan menghasut umat lain supaya turut membenci pelayan-pelayan baru dalam Gereja. Ingat himbauan Yohanes, “Saudara yang tercinta, janganlah meniru apa yang buruk. Tirulah apa yang baik. Orang yang berbuat baik adalah milik Allah. Dan orang yang berbuat jahat belum mengenal Allah.” (3 Yoh 1:11)

 

Dewan Paroki Pleno Paroki St. Lukas 2013-2016 sudah terpilih. Saatnya bagi kita semua menjadi Gayus-Gayus yang membuka pintu lebar-lebar untuk memberi dukungan maksimal untuk mereka. Bukankah kita ingin menyenangkan Allah? Memberi dukungan kepada pelayan-pelayan baru dalam Gereja ini akan membuat jiwa kita menjadi baik pula (3 Yoh 1:2) dan selalu hidup menurut ajaran Allah serta setia terhadap Allah (3 Yoh 1:3).

Dengan demikian betapa leganya Yohanes menutup suratnya, “Semoga Tuhan memberkati Saudara. Kawan-kawanmu di tempat saya ini mengirim salam kepadamu. Sampaikan salam saya kepada semua kawan-kawan kita satu per satu.” (3 Yoh 1:15)

Artikel Terkait:

Ini Aku, Utuslah Aku!