Maria Citra Gereja

Dipublikasikan tanggal 03 May 2013

Perempuan Berselubungkan Matahari

Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. (Why 11:19 – 12:2)

Siapakah perempuan dalam Wahyu 12? Tidak bisa disangkal lagi bahwa kitab Wahyu merupakan kitab yang paling rumit dalam Perjanjian Baru, baik dari segi sastra maupun dari segi teologisnya. Hal ini menimbulkan pelbagai penafsiran yang didukung oleh argumentasi masing-masing.

Kebanyakan ahli tafsir menyimpulkan bahwa perempuan itu adalah lambang dari umat Allah atau Gereja. Hal ini jelas dalam Perjanjian Lama:

  1. Permusuhan antara perempuan dan ular, yang dikisahkan dalam Why 12 sudah muncul dalam Kej 3: 15 yang berbunyi, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."
  2. Dalam Kej 37: 9-10  Yusuf anak Yakub bermimpi; dia melihat matahari, bulan dan sebelas bintang sujud kepadanya. Matahari, bulan, dan bintang melambangkan Yakub, istrinya, dan anak-anaknya, yang adalah bangsa Israel, umat Allah.
  3. Sakit bersalin mengingatkan akan pelukisan Yesaya tentang putri Sion, citra keibuan yang mewakili sisa-sisa Israel yang berseru memohon penebusan – “Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan,menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN” (Yes 26:17, bdk. Mik 4:9-10).
  4. Dua belas bintang yang menjadi mahkota perempuan itu dalam Why melambangkan umat Allah, yang diwakili oleh dua belas suku Israel dan dua belas rasul.

Perempuan itu adalah umat Allah, Gereja, yang berselubungkan matahari karena dianugerahi dengan kasih Allah, sabda, dan pelbagai karunia Roh. Perempuan itu menginjak bulan. Bulan melambangkan sang waktu karena menurut bangsa Israel pergantian hari terjadi pada petang hari, saat matahari terbenam dan bulan bersinar. Dengan menginjak bulan, perempuan mewakili umat Allah atau Gereja sepanjang sejarah.

Di samping tafsir kolektif seperti yang diuraikan di atas, dikenal juga tafsir individu yang mengarahkan perempuan dalam Why 12 kepada sesosok pribadi. Untuk memahami penafsiran ini perlu kiranya dipelajari sedikit tentang tabut perjanjian.

Tabut perjanjian adalah sebuah peti yang terbuat dari kayu penaga/akasia, kayu yang sangat kuat sehingga tidak bisa membusuk, yang disalut dengan emas.  Panjangnya 110cm, tinggi dan lebarnya masing-masing 66cm. Di atas peti ini dibuat sebuah tutup dari emas murni, yang dinamakan tutup pendamaian. Di atas tutup pendamaian dibuat dua buah patung kerubim (patung malaikat) yang saling berhadapan dengan sayap terbentang. Kemudian Allah bersabda, bahwa kalau Dia berkenan berbicara dengan umat-Nya, Dia akan hadir di atas tutup pendamaian itu. Itulah sebabnya di atas tutup pendamaian itu nampak kemuliaan Allah yang disebut shekinah. (Kel 25:10-22) Apa isi dari tabut perjanjian? Menurut Ibr 9:4 di dalam tabut perjanjian terdapat belanga emas berisi manna (roti yang diberikan oleh TUHAN kepada bangsa Israel di padang gurun), tongkat Harun yang telah bertunas (lambang imamat agung) dan dua loh batu yang di atasnya tertulis sepuluh Firman Allah.

 

Menurut cerita dalam Kitab Suci Tabut perjanjian dibawa oleh bangsa Israel dalam setiap pertempuran selama penaklukan bangsa Israel atas tanah Kanaan. Tabut ditempatkan di garis depan sehingga semua musuh ditaklukkan. Tabut membantu bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan (Yos 3:1-17) dan juga tampil gemilang ketika bangsa Israel menaklukkan kota Yerikho (Yos 6:1-27). Suatu ketika tabut perjanjian berhasil dirampas oleh pasukan Filistin, namun membuat keonaran di negeri Filistin sehingga akhirnya dikembalikan lagi kepada bangsa Israel (1 Sam 4:1 – 7:1). Kemudian Tabut dipindahkan ke Yerusalem melewati Baale-Yehuda dan disambut oleh Raja Daud dengan tarian (2 Sam 6:1-23). Namun dalam peristiwa tersebut terjadi insiden yang membangkitkan amarah dan ketakutan Raja Daud sehingga dia berkata, “Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?” (2 Sam 6: 9)

Di zaman raja Salomo tabut perjanjian ditempatkan di Tempat Mahakudus dalam Bait Allah. Suatu ketika kemuliaan TUHAN atau shekinah meninggalkan Bait Allah (Yeh 10:1-22). Bait Allah diserbu oleh pasukan Babel dan sejak saat itu tabut perjanjian hilang dari peredaran. Ada pelbagai spekulasi mengenai keberadaan tabut perjanjian pada saat ini, tetapi Kitab Suci memberi penjelasan lain. Atas inspirasi Allah, nabi Yeremia menyuruh beberapa orang untuk membawa Kemah Suci dan tabut perjanjian ke gunung yang didaki oleh Musa (Gunung Nebo?). Di situ didapatinya sebuah gua dan disembunyikannya Kemah Suci dan tabut perjanjian, lalu gua itu ditutupnya rapat-rapat. Beberapa orang yang ikut dengan Yeremia pergi ke sana untuk menandai jalannya, tetapi mereka tidak dapat menemukan gua itu. Yeremia menegur mereka, katanya, “Tempat itu harus tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta mengasihaninya lagi.” (2 Mak 2:7)

Di Pulau Patmos Yohanes mendapat pelbagai penglihatan, salah satunya adalah tabut perjanjian di surga. Namun yang dilihatnya bukanlah sebuah peti, melainkan seorang perempuan. Perempuan itu memakai matahari sebagai pakaiannya dan sedang berdiri di atas bulan. Di kepalanya terdapat sebuah mahkota yang terdiri dari dua belas bintang. Perempuan ini sedang hamil dan karena sudah waktunya untuk melahirkan, maka ia berteriak kesakitan. Siapa perempuan itu? Sebagian ahli tafsir menghubungkan perempuan itu dengan Bunda Maria dengan didukung oleh sejumlah argumentasi:

  1. Isi tabut perjanjian yakni manna, tongkat Harun (imam agung), dan sepuluh Firman Allah adalah kualifikasi anak yang dikandung oleh Bunda Maria, yakni Yesus Kristus, yang adalah Roti hidup (Yoh 6:35),  Imam Agung (Ibr 6:20) dan sang Firman (Yoh 1:1)
  2. Perempuan itu berselubungkan matahari sama seperti tabut perjanjian yang disalut emas. Ketika malaikat Gabriel memberitahukan kabar tentang kelahiran Yesus kepada Bunda Maria, dia menyapa, “Salam, hai engkau yang dikaruniai …” Kata Yunani “hai engkau yang dikaruniai” kecharitomene hanya muncul satu kali dalam seluruh Kitab Suci dan merupakan nama unik yang diberikan kepada Bunda Maria. Dia adalah perempuan yang berselubungkan matahari karena dia dikaruniai oleh Allah.
  3. Tabut perjanjian terbuat dari kayu penaga/akasia yang tidak bisa membusuk juga cocok dengan keyakinan Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya, dogma yang diproklamasikan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.
  4. Perempuan itu memakai mahkota, berarti dia seorang ratu. Dalam dinasti Daud, seorang ratu bukanlah istri raja, melainkan ibu dari raja. Dalam bahasa Ibrani disebut gebirah. Ibu suri ini merupakan wanita yang paling berkuasa di kerajaan dinasti Daud. Sebagai contoh bisa dibaca intervensi Batsyeba kepada raja Salomo (1 Raj 2:13-46). Apabila umat Kristen perdana meyakini bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Daud, tentu tidak akan sulit untuk menerima bahwa Bunda Maria adalah gebirah-Nya.
  5. Beberapa teks dalam Perjanjian Baru menyiratkan bahwa Maria adalah tabut perjanjian:
    • Kata malaikat Gabriel, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau …” (Luk 1:35) mengingatkan akan kemuliaan TUHAN yang memenuhi Kemah Suci (Kel 40:34)
    • Peristiwa Maria mengunjungi Elisabet dalam Luk 1: 39-56 juga mengingatkan akan peristiwa pemindahan tabut perjanjian ke Yerusalem atas perintah raja Daud. Bunda Maria pergi ke sebuah kota di Yehuda. Ketika mendengar salam Bunda Maria, bayi dalam kandungan Elisabet “menari” kegirangan, lalu Elisabet penuh dengan Roh Kudus dan berseru, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

Pertanyaan sekarang yang masih menjadi polemik antar para ahli tafsir adalah tafsir mana yang paling tepat: siapa perempuan dalam Why 12? Gereja atau Bunda Maria? Setiap orang bisa menyuarakan pendapatnya. Sesungguhnya hal ini tidak akan menjadi masalah, apabila kita memahami peran Bunda Maria dalam Gereja. Untuk memahaminya ada baiknya kita membaca sejenak nubuat dalam kitab Zef 3:9-20 tentang janji keselamatan atau pengharapan Mesianik.

Bersorak-sorailah, hai puteri Sion,bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialahdengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu;engkau tidak akan takut  kepada malapetakalagi. Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan .

Apabila kita cermati ayat-ayat yang dicetak tebal, mungkin kita akan segera diingatkan akan satu teks dalam Perjanjian Baru yakni Luk 1:5-25 yakni pemberitahuan tentang kelahiran Yesus. Bersorak-sorailah, hai putri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel; TUHAN ada di antaramu. Janji ini bergema dalam seruan malaikat Gabriel kepada Bunda Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Kata Yunani “salam” sama dengan “bersorak-sorailah” yakni chaire, yang hanya dipergunakan dalam Perjanjian Lama untuk melukiskan tibanya saat Mesianik.

Bunda Maria adalah citra Gereja karena dia adalah anggota Gereja yang unggul. Kalau selama ini devosi kepada Bunda Maria masih terpusat pada permohonan akan doa perantaraannya, mungkin inilah saatnya untuk memahami devosi dalam arti yang lebih mendalam. Bunda Maria adalah citra Gereja karena dia telah memberikan contoh yang paling sempurna sebagai sebagai seorang pengikut Kristus. Iman, kesederhanaan, kerendahan hati, ketaatan, ketabahan sudah ditunjukkan oleh Bunda Maria kepada kita semua. Devosi kepada Maria seharusnya juga meneladani Bunda Maria. Meneladaninya berarti menghormatinya! Selamat memasuki bulan Maria.