Hari Minggu Biasa XXVII

Dipublikasikan tanggal 04 October 2026

Mat 21 : 33-43

Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur.


Beberapa tokoh dalam perumpamaan:


- Pemilik kebun anggur : Allah Bapa

- Penggarap kebun anggur : bangsa Israel

- Hamba-hamba : Nabi-nabi yang di utus Allah

- Anak pemilik kebun anggur : Tuhan Yesus

- Bangsa lain : Bangsa-bangsa di luar bangsa Israel 


Objek :

- Kebun anggur : Kerajaan Allah


Pada mulanya pemilik kebun anggur menyewakan kebun anggur dengan perjanjian bagi hasil.

Setelah musim petik tiba, pemilik kebun anggur mengirimkan hamba-hambanya untuk menerima hasil, tetapi penggarap-penggarap mengingkari perjanjian dengan menganiaya bahkan membunuh hamba-hamba yang di kirim, termasuk anak pemilik kebun anggur.


Perjanjian bersifat timbal balik, ada hak dan kewajiban.

Ke dua belah pihak mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, tentu saja di sertai dengn harapan untuk mrndapatkan hasil sesuai kesepakatan.


Akan tetapi, sering kali oleh sebab satu dan lain hal, perjanjian di langgar oleh salah satu pihak, dan menimbulkan kekecewaan bagi pihak lain. Tentu saja setiap pelanggaran ada akibat, karena setiap perjanjian bersifat timbal balik.


Dalam perumpamaan di atas Tuhan Yesus kembali menegur bangsa Israel bahwa mereka sudah di pilih Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa terpilih, bangsa yang di kuduskan bagi Allah.

Maka kerajaan Allah pertama-tama di beritakan kepada mereka,  banyak nabi yang di kirimkan untuk menegur, mengajar dan mengingatkan mereka, akan tetapi nabi-nabi yang di kirimkan Allah  banyak yang di aniaya dan di bunuh, bahkan Tuhan Yesus sendiri yang merupakan Anak Allah sendiri akan di aniaya dan di bunuh oleh mereka.


Karena bangsa Israel tidak mau mendengarkan, bahkan berkali-kali melawan perintah Allah, maka kerajaan Allah akan di ambil dari mereka, dan di berikan kepada bangsa lain yang akan menghasilkan buah kerajaan itu (Mat 21: 43)


Belajar dari perumpamaan di atas, setiap dari kita juga di berikan tugas perutusan mewartakan kerajaan Allah, tentu tugas yang kita emban juga di harapkan menghasilkan buah, agar kerajaan Allah semakin tersebar dan semakin banyak orang yang di selamatkan.


Apakah kita akan seperti bangsa Israel yang sebenarnya dipilih dan di kuduskan Allah, tetapi kemudian karena melalaikan tugas, kerajaan Allah di ambil dari mereka, semua kembali kepada kita sendiri,  apakah kita mengerjakan tugas yang kita emban dengan sungguh- sungguh, dan menghasilkan banyak buah, atau justru kita melalaikan tugas kita,  kalaupun di lakukan hanya sebatas tugas formalitas saja tanpa hati dan kasih, tentu bukan itu yang menjadi harapan Tuhan.


Perlu kita ingat bahwa Allah sendiri yang memilih kita untuk  melakukan tugas yang di percayakan, karena itu mari kita kerjakan pelayanan kita dengan sebaik-baiknya selagi masih di berikan kesempatan dan kemampuan.


Dengan kesadaran bahwa setiap hari Allah telah melimpahkan berkat dan kasih-Nya, mari kita belajar mengasihi-Nya dengan memberikan waktu dan tenaga yang terbaik dalam pelayanan di gereja kudus-Nya sesuai dengan talenta dan tugas kita masing-masing.


Tuhan Yesus memberkati