Hari Minggu biasa XXV
Dipublikasikan tanggal 20 September 2026

Mat 20 : 1-16
"Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau.
Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?" (ayat 13)
Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, merupakan lanjutan dari Mat 19: 27-30, tentang
upah mengikuti Yesus yang di tanyakan oleh Petrus.
Tentu perumpamaan ini bukan patokan bagi kita dalam hal pengupahan dalam dunia usaha, tetapi soal "keadilan" dan "kemurahan hati" dari tuan pemilik kebun anggur.
Di katakan rombongan pekerja yang masuk bekerja pagi hari sudah menyepakati dengan upah sedinar sehari dengan tuan pemilik kebun anggur, sebaliknya rombongan-rombongan setelahnya tidak ada kesepakatan soal berapa upah yang akan mereka terima, tetapi di katakan "pergilah juga kamu ke kebun anggurku, dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu"
Selesai bekerja, malam harinya semua pekerja menerima upah yang sama, yaitu 1 dinar, tentu yang masuk terdahulu merasa tidak puas dan bersungut-sungut (ayat 11).
Demikianlah, tuan itu menjawab bukankah kita sudah sepakat sedinar sehari, tidakah aku bebas mempergunakan milikku, menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (ayat 15)
Lebih lanjut melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus mau menjelaskan bahwa orang-orang Israel telah terlebih dahulu di pilih untuk beroleh rahmat Allah dengan warisan hukum Taurat yang di turunkan Allah kepada mereka melalui Musa.
Mereka yang menjalankannya dengan konsisten akan beroleh rahmat keselamatan, itulah pekerja yang masuk pagi-pagi benar, ada perjanjian (kesepakatan) yang di buat antara Allah dengan umat Israel, mereka beroleh "keadilan".
Sedangkan setelah kedatangan Tuhan Yesus, umat yang percaya dan mengikuti Yesus, termasuk kita saat ini, beroleh "rahmat kemurahan" dari Allah, itulah pekerja-pekerja yang masuk kemudian, tidak ada kesepakatan upah, tetapi semata-mata kemurahan hati Tuhan (apa yang pantas akan kuberikan kepadamu), olehnya kita semua beroleh keselamatan.
Bukan pula karena kita berjasa, sehingga kita terpilih, tetapi semata-mata karena Tuhan berbelas kasih kepada kita.
Meskipun kita beroleh kemurahan, haruslah kita berjuang dalam iman, agar kita layak beroleh keselamatan yang telah kita beroleh dengan cuma-cuma dari Allah.
Kualitas iman tidaklah di tentukan berapa lama kita menerima baptisan, tidak di tentukan berapa lama kita telah menjadi murid Kristus, tetapi di tentukan bagaimana dalam kehidupan sehari-hari, dalam pergumulan hidup, kita jalani dengan berpegang teguh pada perintah-perintah-Nya, setia dan taat pada kehendak-Nya, bahkan di saat-saat yang sulit. perjuangan kita menjalankan dan mempertahankan iman di tengah berbagai tantangan dan godaan dunia, menentukan apakah rahmat kemurahan dari Allah sungguh menjadi sarana keselamatan bagi kita.
"Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir (ayat 16)"
Tuhan Yesus memberkati 🙏



