PESAN PAUS LEO XIV PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PANGGILAN KE-63
Dipublikasikan tanggal 10 April 2026

Saudara-saudari terkasih, terutama kaum muda yang saya
kasihi!
Dipimpin dan dilindungi oleh
Yesus yang bangkit, pada Minggu Paskah IV, yang disebut “Minggu Gembala Baik”,
kita merayakan Hari Doa Sedunia ke-63 untuk Panggilan. Ini merupakan kesempatan
penuh rahmat untuk membagikan beberapa refleksi tentang dimensi batin dari
panggilan, yang dipahami sebagai penemuan akan anugerah Allah yang diberikan
secara cuma-cuma dan bertumbuh di kedalaman hati setiap orang. Maka, marilah
kita bersama-sama menempuh jalan hidup yang sungguh indah, jalan yang
ditunjukkan Sang Gembala kepada kita.
Jalan keindahan
Dalam Injil Yohanes, Yesus
secara harfiah menyebut diri-Nya sebagai “gembala yang baik” (ὁ ποιμὴν ὁ καλός)
(Yoh 10:11). Ungkapan ini menunjukkan seorang gembala yang sempurna, sejati,
dan layak menjadi teladan, karena Ia siap menyerahkan hidup-Nya bagi
domba-domba-Nya. Dengan demikian, Ia menampakkan kasih Allah. Ia adalah Gembala
yang memikat hati: siapa pun yang memandang-Nya akan menemukan bahwa hidup
sungguh indah bila dijalani dengan mengikuti-Nya.
Untuk mengenal keindahan ini,
tidak cukup hanya dengan mata jasmani atau ukuran-ukuran lahiriah. Diperlukan
permenungan dan kedalaman batin. Hanya orang yang mau berhenti, mendengarkan,
berdoa, dan menerima tatapan-Nya yang dapat berkata dengan penuh keyakinan:
“Aku percaya, bersama-Nya hidup sungguh dapat menjadi indah; aku ingin menempuh
jalan keindahan ini.” Dan hal yang paling luar biasa ialah bahwa ketika kita
menjadi murid-murid-Nya, kita pun menjadi “indah”: keindahan-Nya mengubah hidup
kita. Seperti ditulis oleh teolog Pavel Florenskij, askese tidak membentuk
manusia yang “baik” saja, melainkan manusia yang “indah”. [1] Ciri khas para
kudus, selain kebaikan, adalah keindahan rohani yang bercahaya, yang terpancar
dari mereka yang hidup di dalam Kristus. Dengan demikian, panggilan kristiani
menyingkapkan seluruh kedalamannya: ikut ambil bagian dalam hidup-Nya, berbagi
dalam perutusan-Nya, dan memancarkan keindahan-Nya sendiri.
Pengalaman batin tentang
hidup, iman, dan makna ini juga dialami oleh Santo Agustinus. Dalam buku ketiga
Confessiones, ketika ia mengakui dan mengungkapkan dosa serta kesalahan masa
mudanya, ia menyadari Allah sebagai Pribadi yang “lebih dalam daripada kedalaman
diriku sendiri”.[2] Melampaui kesadaran akan dirinya, ia menemukan keindahan
terang ilahi yang menuntunnya di tengah kegelapan. Agustinus melihat kehadiran
Allah di bagian terdalam jiwanya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memahami dan
menghidupi pentingnya merawat kehidupan batin sebagai ruang perjumpaan dengan
Yesus, sebagai jalan untuk mengalami keindahan dan kebaikan Allah dalam
hidupnya.
Relasi ini dibangun dalam doa
dan keheningan. Jika dipelihara, relasi ini membuka kemungkinan untuk menerima
dan menghidupi anugerah panggilan. Panggilan bukanlah suatu paksaan atau pola
tetap yang tinggal diikuti begitu saja, melainkan suatu rencana kasih dan
kebahagiaan. Karena itu, perhatian terhadap kehidupan batin adalah titik tolak
yang sangat mendesak untuk diperbarui dalam pastoral panggilan dan dalam
semangat evangelisasi yang selalu baru.
Dalam semangat ini, saya
mengundang semua pihak—keluarga, paroki, komunitas religius, para uskup, imam,
diakon, katekis, pendidik, dan umat awam—untuk semakin berkomitmen menciptakan
lingkungan yang mendukung agar anugerah ini dapat diterima, dipelihara, dijaga,
dan didampingi hingga menghasilkan buah yang berlimpah. Hanya bila lingkungan
kita bersinar karena iman yang hidup, doa yang tekun, dan pendampingan
persaudaraan, panggilan Allah dapat bertumbuh dan menjadi matang, lalu menjadi
jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi setiap orang dan bagi dunia. Karena itu,
sambil menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Yesus, Sang Gembala yang indah,
marilah kita belajar semakin mengenal diri kita sendiri dan semakin dekat
mengenal Allah yang telah memanggil kita.
Pengenalan yang timbal balik
“Tuhan, sumber kehidupan,
mengenal kita dan menerangi hati kita dengan tatapan kasih-Nya.”[3] Setiap
panggilan selalu berawal dari kesadaran dan pengalaman akan Allah yang adalah
Kasih (lih. 1Yoh 4:16). Ia mengenal kita secara mendalam, telah menghitung rambut
di kepala kita (lih. Mat 10:30), dan telah memikirkan bagi setiap orang suatu
jalan kekudusan dan pelayanan yang khas. Namun, pengenalan ini haruslah timbal
balik. Kita diajak untuk mengenal Allah melalui doa, mendengarkan Sabda-Nya,
sakramen-sakramen, kehidupan Gereja, dan penyerahan diri kepada saudara-saudari
kita. Seperti Samuel muda yang pada malam hari, mungkin secara tak terduga,
mendengar suara Tuhan dan belajar mengenalinya dengan bantuan Eli (lih. 1Sam
3:1–10), demikian pula kita harus menciptakan ruang keheningan batin untuk
menangkap apa yang Tuhan kehendaki bagi kebahagiaan kita. Ini bukanlah soal
pengetahuan intelektual yang abstrak atau pengetahuan ilmiah semata, melainkan
perjumpaan pribadi yang mengubah hidup.[4] Allah tinggal di dalam hati kita:
panggilan adalah dialog yang intim dengan-Nya, yang memanggil—meskipun kadang
di tengah kebisingan dunia yang memekakkan—dan mengundang kita untuk menjawab
dengan sukacita dan kemurahan hati yang sejati.
«Noli foras ire, in te ipsum
redi, in interiore homine habitat veritas – Jangan pergi ke luar dirimu;
kembalilah ke dalam dirimu sendiri; kebenaran tinggal dalam batin manusia.”[5]
Sekali lagi, Santo Agustinus mengingatkan betapa pentingnya belajar berhenti
dan membangun ruang keheningan batin agar kita dapat mendengarkan suara Yesus
Kristus.
Kaum muda yang terkasih,
dengarkanlah suara ini! Dengarkanlah suara Tuhan yang mengundang kalian untuk
menjalani hidup yang penuh dan bermakna, dengan mengembangkan talenta-talenta
kalian (lih. Mat 25:14–30) dan memakukan keterbatasan serta kelemahan kalian
pada Salib Kristus yang mulia. Karena itu, berhentilah dalam adorasi Ekaristi,
renungkanlah Sabda Allah dengan tekun agar dapat dihidupi setiap hari, dan
ambillah bagian secara aktif dan penuh dalam kehidupan sakramental serta
kehidupan Gereja. Dengan cara ini, kalian akan semakin mengenal Tuhan, dan
dalam keakraban persahabatan dengan-Nya, kalian akan menemukan bagaimana
menyerahkan diri: melalui jalan perkawinan, imamat, diakonat tetap, ataupun
hidup bakti, baik religius maupun sekuler. Setiap panggilan adalah anugerah
yang sangat besar bagi Gereja dan bagi siapa saja yang menerimanya dengan
sukacita. Mengenal Tuhan terutama berarti belajar mempercayai Dia dan
penyelenggaraan-Nya, yang berlimpah dalam setiap panggilan.
Kepercayaan
Dari pengenalan lahirlah kepercayaan. Sikap ini adalah buah iman dan sangat penting, baik untuk menerima panggilan maupun untuk tetap setia menjalaninya. Sebab hidup adalah perjalanan yang terus-menerus untuk percaya dan menyerahkan diri kepada Tuhan, bahkan ketika rencana-Nya mengguncang rencana kita sendiri. Dari pengenalan lahirlah kepercayaan. Sikap ini adalah buah iman dan sangat penting, baik untuk menerima panggilan maupun untuk tetap setia menjalaninya. Sebab hidup adalah perjalanan yang terus-menerus untuk percaya dan menyerahkan diri kepada Tuhan, bahkan ketika rencana-Nya mengguncang rencana kita sendiri.
Kita dapat memandang Santo
Yusuf. Meskipun ia berhadapan dengan misteri yang tak terduga dari kehamilan
Perawan Maria, ia mempercayakan dirinya kepada pewahyuan Allah dalam mimpi dan
menerima Maria serta Sang Anak dengan hati yang taat (lih. Mat 1:18–25;
2:13–15). Yusuf dari Nazaret adalah gambaran kepercayaan yang total kepada
rencana Allah. Ia tetap percaya bahkan ketika segala sesuatu di sekelilingnya
tampak gelap dan negatif, ketika keadaan seolah berjalan ke arah yang
berlawanan dari yang diharapkan. Ia percaya dan menyerahkan dirinya, yakin akan
kebaikan dan kesetiaan Tuhan. “Dalam setiap keadaan hidupnya, Yusuf mampu
mengucapkan ‘fiat’-nya, seperti Maria pada saat Kabar Sukacita dan Yesus di
Getsemani.”[6]
Sebagaimana diajarkan kepada
kita oleh Yubileum Harapan, kita perlu memelihara kepercayaan yang teguh dan
kokoh pada janji-janji Allah, tanpa pernah menyerah kepada keputusasaan, dengan
mengatasi ketakutan dan ketidakpastian, sambil tetap yakin bahwa Kristus yang
bangkit adalah Tuhan atas sejarah dunia dan sejarah pribadi kita. Ia tidak
meninggalkan kita pada saat-saat paling gelap, melainkan datang untuk
menyingkirkan semua kegelapan kita dengan terang-Nya. Dan justru berkat terang
serta kekuatan Roh-Nya, juga melalui pencobaan dan krisis, kita dapat melihat
panggilan kita menjadi matang dan semakin memantulkan keindahan Dia yang telah
memanggil kita—keindahan yang terdiri dari kesetiaan dan kepercayaan, meskipun
ada luka dan kegagalan.
Kematangan
Panggilan, pada kenyataannya,
bukanlah tujuan yang diam dan selesai begitu saja, melainkan proses pertumbuhan
yang dinamis menuju kedewasaan. Proses ini dipupuk oleh keakraban dengan Tuhan:
tinggal bersama Yesus, membiarkan Roh Kudus berkarya dalam hati dan dalam
situasi hidup, serta memandang kembali segala sesuatu dalam terang anugerah
yang telah diterima.
Seperti pokok anggur dan
ranting-rantingnya (lih. Yoh 15:1–8), demikianlah seluruh hidup kita harus
dibangun dalam ikatan yang kuat dan mendasar dengan Tuhan, supaya hidup kita
semakin menjadi jawaban yang penuh atas panggilan-Nya, termasuk melalui pencobaan
dan “pemangkasan” yang diperlukan. “Tempat-tempat” di mana kehendak Allah
paling nyata dan kasih-Nya yang tak terbatas paling dapat dialami sering kali
adalah relasi-relasi yang sejati dan penuh persaudaraan yang mampu kita bangun
sepanjang hidup. Betapa berharganya memiliki pembimbing rohani yang baik, yang
mendampingi penemuan dan perkembangan panggilan kita. Betapa pentingnya
penegasan rohani dan pengujian dalam terang Roh Kudus, agar suatu panggilan
dapat terwujud dalam seluruh keindahannya.
Jadi, panggilan bukanlah
sesuatu yang langsung dimiliki atau sesuatu yang “diberikan” sekali untuk
selamanya. Panggilan lebih merupakan perjalanan yang berkembang seperti
kehidupan manusia itu sendiri. Anugerah yang diterima, selain dijaga, juga
harus dipupuk melalui hubungan sehari-hari dengan Allah agar dapat bertumbuh
dan menghasilkan buah. “Hal ini sangat berharga, karena menempatkan seluruh
hidup kita di hadapan Allah yang mengasihi kita dan membuat kita memahami bahwa
tidak ada sesuatu pun yang merupakan hasil dari kekacauan tanpa makna.
Sebaliknya, segala sesuatu dapat masuk ke dalam suatu perjalanan tanggapan
kepada Tuhan, yang mempunyai rencana yang indah bagi kita.”[7]
Saudara-saudari terkasih,
terutama kaum muda yang saya kasihi, saya mendorong kalian untuk memelihara
relasi pribadi kalian dengan Allah melalui doa setiap hari dan permenungan atas
Sabda-Nya. Berhentilah, dengarkanlah, percayakanlah diri kalian. Dengan cara
demikian, anugerah panggilan kalian akan menjadi matang, akan membawa
kebahagiaan bagi kalian, dan akan menghasilkan buah berlimpah bagi Gereja dan
dunia.
Semoga Perawan Maria, teladan
dalam menerima anugerah ilahi di dalam batin dan guru dalam mendengarkan dengan
doa, selalu menyertai kalian dalam perjalanan ini.
Vatikan, 16 Maret 2026
Leo XIV



